Serius Incar Ketua KONI Sultra, Hasanuddin Anggap Triple A Bukan Lawan Sebanding

Metro Kota, Olahraga432 Dilihat

KENDARI, LONTARASULTRA.COM – Persaingan menuju kursi Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mulai menghangat. Salah satu kandidat yang mencuri perhatian adalah La Ode Hasanuddin Kansi.

Ketua Dewan Pembina Aliansi Pemuda dan Pelajar (AP2) Sultra itu menyatakan keseriusannya untuk bertarung dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) KONI 2025.

Dengan penuh percaya diri, Hasanuddin Kansi bahkan menyebut bakal calon, Andi Ady Aksar (Triple A), sebagai figur yang tidak sebanding untuk dihadapi dalam kontestasi pemilihan ketua KONI mendatang.

“Saya tidak melihat Triple A sebagai lawan yang sebanding. KONI butuh perubahan. Kita harus dorong organisasi ini lebih progresif, profesional, dan bersih dari kepentingan politik atau kelompok tertentu,” tegas Hasanuddin, Rabu (23/7/2025).

Dalam kesempatan itu, Hasanuddin Kansi mengaku telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pengurus cabang olahraga (Cabor) di bumi anoa. Banyak dari mereka menginginkan perubahan total dalam tata kelola KONI.

“Mereka ingin pemimpin KONI yang mau turun ke lapangan, bukan hanya hadir saat seremoni. Atlet itu butuh perhatian, pelatih butuh dukungan, dan cabor butuh transparansi,” katanya.

Kemudian Hasanuddin mengatakan pentingnya menjauhkan KONI dari kepentingan politik praktis yang selama ini, menurutnya, justru menghambat perkembangan prestasi olahraga.

“Kita harus pastikan KONI ke depan fokus ke pembinaan dan prestasi. Jangan lagi dicampuri urusan politik, proyek, atau kepentingan kelompok,” jelasnya.

Dalam kesempatan, Hasanuddin menyampaikan bahwa KONI Sultra di bawah kepemimpinan Alvian minim prestasi dan kehilangan arah pembinaan. Bahkan lemahnya transparansi anggaran, minimnya kolaborasi dengan Cabor hingga kurangnya keberpihakan kepada atlet daerah.

“Kami mencatat banyak keluhan dari para pelatih, pengurus cabor, hingga atlet. Dana pembinaan lambat, perhatian ke atlet minim, dan manajemen organisasi sangat tertutup. Ini bukan wajah KONI yang ideal,” bebernya.

Ia menegaskan, pencalonannya bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk memperbaiki wajah olahraga Sulawesi Tenggara secara menyeluruh.

“Saya maju karena ingin KONI Sultra menjadi rumah besar yang benar-benar berpihak pada pembinaan atlet dan prestasi daerah. Bukan jadi arena politik atau kepentingan kelompok,” tandasnya.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *