Menunggu Pemimpin Baru

Opini248 Dilihat

Oleh: Ajimi,SH (Praktisi Hukum)

LONTARASULTRA.COM – Sesungguhnya daerah ini sedang menunggu pemimpin baru. Suasana politik menggambarkan keinginan itu. Diskursus tentang kepemimpinan baru menghangat di media masa. Itu berarti harapan tentang perubahan masih hidup dalam masyarakat.

Namun, kita juga sedang mengalami politikal dinasti. Indikasinya pemimpin daerah saat ini ingin memberikan estafet kepemimpinan pada kroni dan keluarganya. Lalu, bagaimana menjelaskan suatu gairah perubahan berdampingan dengan neotisme kekuasan?

Fenomena saat ini juga ditandai dengan kesulitan sosial ekonomi di daerah sangatlah dirasakan masyarakat. Dan jawabannya adalah perubahan kepemimpinan yang baru.

Persoalannya adalah kepada siapa energi perubahan itu hendak disalurkan? Yang sudah bersiap menampung perubahan itu adalah sejumlah tokoh muda. Dari sudut pandang ini masalah menjadi jelas: perubahan berarti pergantian generasi.

Tesisnya bukan lagi soal “muda” versus “tua”, tetapi “baru” versus “lama”. Hal Ini berarti, kita ingin memberi kesempatan pada pemimpin baru yang relatif otonom dari pengaruh dan tradisi kepemimpinan lama.

Perubahan seperti apa yang dibutuhkan? Apa orientasi ideologi ekonomi mereka?Apa rekor kemampuannya?

Komplikasi-komplikasi etika politik itu memang harus dihitung cermat, agar gairah tetang perubahan tidak membutakan pandangan kita tetang keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Pemimpin bukan pengecer ayat-ayat suci yang menjanjikan surga eksklusif sambil menebar kebencian pada sesama manusia. Pemimpin adalah pemberi arah hidup sebuah bangsa. Ia menanam nilai untuk dituai orang lain dalam jangka panjang. Pemimpin tidak berkelahi demi dendam politik, melainkan guru yang sabar mengajarkan keadilan dan kemerdekaan.

Kalkulasi-kalkulasi politik itulah yang masih kita analisis selama periode kampanye edukatif yang akan berlangsung semester ini.

Satu hal yang pasti bahwa perubahan politik harus terjadi di 2024, karena sangat menyedihkan bila daerah ini yang penuh oportunitas dikendalikan justru oleh para oportunis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *