Jurus Jitu Pemkot Kendari Tekan Pengangguran dengan Peluang Kerja ke Luar Negeri

KENDARI, LONTARASULTRA.COM – Pemerintah Kota Kendari membuka peluang dalam upaya mengurangi angka pengangguran. Tidak hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja di dalam daerah, pemerintah kini melirik pasar kerja internasional melalui program penempatan tenaga kerja terampil ke luar negeri yang digagas Pemerintah Pusat.

Langkah tersebut mengemuka dalam audiensi antara Wakil Wali Kota Kendari Sudirman dengan Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tenggara, La Ode Askar, di ruang kerja Wakil Wali Kota Kendari, Kamis (11/6/2026).

Pertemuan itu membahas peluang kolaborasi antara Pemerintah Kota Kendari dan BP3MI Sultra dalam mendukung program nasional penempatan tenaga kerja ke luar negeri sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat, khususnya lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi.

Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menilai program tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk menekan angka pengangguran yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Namun menurutnya, paradigma masyarakat terhadap pekerja migran perlu diubah agar tidak lagi identik dengan pekerjaan domestik atau sektor informal semata

“Ini bagian dari program kerja kita tahun 2026. Yang perlu dibangun sekarang adalah bagaimana masyarakat memahami bahwa bekerja di luar negeri bukan sekadar menjadi pekerja migran seperti stigma yang berkembang selama ini, tetapi menjadi tenaga kerja terampil yang memiliki keahlian dan pengalaman internasional,” ujar Sudirman.

Ia mengatakan, tenaga kerja yang diberangkatkan melalui program resmi akan memperoleh pelatihan dan peningkatan kompetensi terlebih dahulu sehingga memiliki daya saing yang lebih tinggi. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi modal berharga ketika kembali ke Indonesia.

Karena itu, Pemerintah Kota Kendari berencana memperkuat sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, mulai dari media sosial, kegiatan kecamatan dan kelurahan, hingga penyebaran informasi secara langsung pada kegiatan Car Free Day.

Menurut Sudirman, pendekatan digital dan konvensional harus berjalan beriringan agar informasi mengenai peluang kerja luar negeri dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, Kepala BP3MI Sulawesi Tenggara, La Ode Askar, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya menyukseskan program SMK Go Global yang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah pusat.

Melalui program itu, pemerintah menargetkan penempatan 500 ribu tenaga kerja Indonesia ke luar negeri secara bertahap hingga tahun 2029. Khusus tahun 2026, pemerintah menargetkan sekitar 40 ribu tenaga kerja ditempatkan di berbagai negara tujuan.

Menurut La Ode Askar, program ini tidak hanya berorientasi pada penempatan kerja, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan kompetensi dan kemampuan bahasa asing.

“Selama ini banyak masyarakat berminat bekerja ke luar negeri, tetapi terkendala kompetensi dan biaya pelatihan. Karena itu negara hadir untuk memberikan pelatihan kepada calon pekerja migran agar mereka siap bersaing di pasar kerja global,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini minat masyarakat Sulawesi Tenggara masih relatif rendah. Dari proses pendataan yang dilakukan sejak akhir 2025 hingga Mei 2026, jumlah pendaftar yang menyatakan minat bekerja ke luar negeri baru mencapai 227 orang.

Angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi yang dimiliki Sulawesi Tenggara, terutama jika melihat banyaknya lulusan SMA dan SMK yang belum terserap pasar kerja.

Karena itu, BP3MI meminta dukungan pemerintah daerah untuk memperluas sosialisasi dan menghilangkan stigma negatif yang selama ini melekat pada pekerjaan di luar negeri.

“Yang kita lakukan sekarang adalah memetakan minat masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu baru disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan dan diberikan pelatihan yang sesuai,” katanya.

La Ode Askar menjelaskan bahwa peluang kerja yang tersedia sangat beragam, mulai dari sektor perhotelan, konstruksi, perkebunan, manufaktur, hingga layanan jasa. Penempatan juga akan disesuaikan dengan kompetensi peserta serta kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Kendari, Farida Agustina, menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah mengubah persepsi masyarakat yang masih ragu bekerja di luar negeri.

Menurutnya, banyak lulusan SMA dan SMK yang masih khawatir meninggalkan keluarga atau takut menghadapi lingkungan baru di negara lain. Karena itu, pemerintah akan memperkuat edukasi dengan menampilkan kisah sukses pekerja migran yang berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

Selain itu, Pemkot Kendari juga akan melibatkan kecamatan dan kelurahan dalam penyebarluasan informasi agar peluang kerja tersebut dapat diketahui lebih luas oleh masyarakat.

Rencananya, kerja sama antara pemerintah daerah, BP3MI, perusahaan penempatan pekerja migran, dan lembaga pelatihan kerja akan segera ditindaklanjuti melalui pertemuan lanjutan dan penyusunan nota kesepahaman.

Jika program ini berjalan sesuai rencana, Kendari berpotensi menjadi salah satu daerah di Sulawesi Tenggara yang aktif menyiapkan tenaga kerja terampil untuk pasar global, sekaligus membuka jalan baru dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Veto)

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *