KENDARI, LONTARASULTRA.COM – Ketua DPW NasDem Sulawesi Tenggara (Sultra), Ali Mazi membeberkan duduk perkara La Ode Tariala selaku Ketua DPRD Sultra tidak mendapat kursi di bagian depan dan malah duduk di deretan paling belakang saat rapat kerja wilayah (Rakerwil) di Kota Kendari, Senin (18/5/2026).
Ali Mazi memandang, selama ini La Ode Tariala yang juga sebagai kader Partai NasDem tidak pernah membaur bersama pengurus yang lain.
Bahkan kata Ali Mazi, selama dirinya berada Kota Kendari, belum pernah bertemu dengan La Ode Tariala, terlebih soal keterlibatannya di panitia Rakerwil yang dihadiri oleh Ketua Koordinator Pemenangan Pemilu DPP NasDem, Prananda Surya Paloh.
“Saya sudah seminggu di sini (Kendari), nda pernah lihat dia di kantor. Apa lagi saat panitia kerja saya lihat sendiri, nda ada dia,” beber Ali Mazi saat ditemui usai Rakerwil.
Mantan Gubernur Sultra periode 2003-2008 dan 2018-2023 itu juga menyinggung soal politik “Telur Mata Sapi” yang memiliki arti yakni lain yang bekerja keras malah pekerjaan tersebut diklaim oleh orang lain.
Ali Mazi mengungkapkan, sebagai partai politik seharusnya semua kader senasib sepenanggungan, hidup bersama dan tidak bercerai-berai agar partai bisa maju.
“Ini kan soal hati, kalau hati kita lurus ya lurus. Kalau teman-teman panitia menganggapnya tidak ada, karena memang tidak ada, kalau ada kan tiap hari di kantor, tidak minta juga apa-apa saya,” cetusnya.
Kata Ali Mazi, di Partai NasDem semua kader saling pengertian, kekeluargaan, gotong royong, saling toleransi dan tidak ada intrik, hal tersebut seperti yang sudah diajarkan oleh Ketum NasDem, Surya Paloh.
“Jadi kalau ada yang merasa kenapa Pak Tariala duduk di belakang, kalau kamu tidak pernah kerja ya gimana? Kalau tidak pernah pegang pacul, tiba-tiba datang kau di depan, kan kasihan dong yang kerja,” paparnya
Sebelumnya, La Ode Tariala yang juga menjabat Ketua DPRD Sultra tidak mendapat kursi bagian depan bersama elit partai lain yang juga dihadiri Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka dan Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, ia malah terlihat duduk paling belakang bersama simpatisan dan pengurus biasa saat agenda resmi berlangsung.
Tak sampai di situ, foto baliho La Ode Tariala juga tidak terpampang di area hotel lokasi kegiatan berlangsung, sementara wajah pemimpin NasDem lainnya terpajang jelas di setiap tembok lokasi kegiatan Rakerwil.
Bahkan dalam sesi pembukaan, saat nama-nama tokoh yang hadir disebutkan dari panggung utama, nama La Ode Tariala tidak terdengar secara eksplisit dalam rangkaian penyebutan resmi tersebut.
Meski demikian, La Ode Tariala memilih merespons situasi tersebut dengan tenang. Ia menegaskan tetap menghormati seluruh keputusan partai dan menganggap kehadirannya dalam Rakerwil sebagai bentuk loyalitas terhadap organisasi.
“Saya hadir di sini karena saya masih kader partai dan saya tunduk terhadap keputusan partai,” ujarnya.
Tariala juga menegaskan bahwa ditempatkan di kursi belakang bukan sesuatu yang membuat dirinya malu ataupun merasa direndahkan.
Menurutnya, berpartai bukan soal posisi, melainkan tentang perjuangan bersama untuk menjalankan tujuan organisasi.
“Berpartai itu bukan persoalan suka atau tidak suka antar individu. Semua punya tujuan yang sama untuk menjalankan perintah partai demi mencapai hasil dan tujuan yang diinginkan partai,” paparnya.
Redaksi






